Purbalingga tetapkan status tanggap bencana di 7 desa, warga diminta waspada dan siaga menghadapi potensi bencana alam.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga resmi menetapkan tujuh desa dalam status tanggap bencana Signal Alam. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi bencana alam dan memastikan warga tetap waspada serta siap menghadapi kondisi darurat.
Berbagai langkah mitigasi dan pemantauan intensif kini tengah dijalankan oleh aparat setempat.
Status Tanggap Darurat Ditetapkan Di 7 Desa Purbalingga
Pemerintah Kabupaten Purbalingga resmi menetapkan status keadaan darurat bencana hidrometeorologi di tujuh desa. Langkah ini dilakukan menyusul terjadinya gerakan tanah dan banjir yang melanda beberapa wilayah beberapa hari terakhir. Status tanggap darurat ini berlaku untuk Desa Gandasuli, Karangmalang, Banjarsari, Limbasari di Kecamatan Bobotsari, serta desa-desa di Kecamatan Karangreja dan Mrebet.
Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, menjelaskan keputusan ini berdasarkan kaji cepat lapangan yang dilakukan pada 24 Januari 2026. Sehubungan dengan musim penghujan yang dapat menimbulkan banjir, tanah longsor, atau cuaca ekstrem, kami menetapkan status tanggap darurat di sejumlah desa terdampak, ujarnya. Penetapan ini juga mengacu pada Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor 300.2/0008913 Tahun 2025 tentang kesiapsiagaan daerah menghadapi bencana musim hujan.
Dengan status ini, penanganan darurat di lapangan diharapkan lebih cepat dan terkoordinasi, sekaligus meminimalkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa. Masa berlaku status tanggap darurat ditetapkan selama 14 hari, mulai 24 Januari hingga 6 Februari 2026, namun dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.
Evakuasi Dan Penanganan Darurat Di Lokasi Bencana
Pemerintah daerah telah menginstruksikan seluruh perangkat terkait, termasuk BPBD, TNI, Polri, dan relawan, untuk meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah terdampak. Keselamatan warga menjadi prioritas utama, sehingga masyarakat diminta mengikuti arahan petugas dan segera melaporkan potensi bencana.
Banjir bandang yang terjadi pada Sabtu (24/1) dini hari melanda Desa Serang, Kutabawa (Kecamatan Karangreja), serta Desa Sangkanayu (Kecamatan Mrebet). Lokasi terdampak berada di lereng tenggara Gunung Slamet. Salah satu korban, Solihah (26) dari Desa Serang, meninggal dunia setelah rumahnya rata dengan tanah.
Tim relawan gabungan bekerja keras membersihkan material lumpur dan kayu yang menutupi jalanan dan permukiman. Jalan menuju Basecamp Pos Bambangan, jalur pendakian Gunung Slamet dari Purbalingga, sempat tertutup material banjir. Ratusan rumah terdampak, termasuk tujuh rumah yang hanyut terbawa arus.
Baca Juga: Waspada! Hujan Lebat dan Angin Kencang Mengintai NTT
Kondisi Warga Dan Dampak Sosial Bencana
Warga yang terdampak bencana mengaku ketakutan karena banjir datang dengan cepat. Tri Sasongko (29), warga Desa Sangkanayu, menceritakan bahwa hujan tidak terlalu deras, namun disertai angin kencang. Air banjir datang sekitar pukul 03.15 WIB dengan ketinggian sekitar 1 meter dan membawa lumpur, pasir, dan kayu.
Material banjir sempat surut selama 15 menit sebelum datang lagi, menghantam permukiman warga. Warga juga melaporkan angin kencang selama tiga hari terakhir, yang membuat mereka sulit tidur dan khawatir akan terjadinya bencana susulan. Dampak sosialnya terlihat dari hilangnya hewan ternak dan kerusakan rumah warga.
Pemerintah daerah terus melakukan pendataan dan pemantauan di lapangan. Lintas instansi gabungan tetap berada di lokasi untuk meminimalkan risiko tambahan dan mempercepat bantuan terhadap warga terdampak.
Upaya Mitigasi Dan Peringatan Untuk Warga
Bupati Purbalingga menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat, terutama di wilayah rawan bencana. Semua pihak diminta siap menghadapi kemungkinan banjir susulan atau gerakan tanah. Pemerintah juga akan menyalurkan bantuan darurat dan menyiapkan tempat pengungsian bagi warga terdampak.
Langkah ini sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Tengah terkait kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Pemerintah kabupaten berkomitmen memantau kondisi wilayah terdampak secara intensif, memastikan penanganan cepat, serta mencegah potensi kerugian lebih besar di masa mendatang.
Masyarakat dihimbau mengikuti arahan petugas, menjaga keselamatan, dan melaporkan kondisi kritis di lingkungan masing-masing. Dengan koordinasi yang baik, diharapkan risiko bencana dapat diminimalkan dan keselamatan warga tetap menjadi prioritas.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari sragen.inews.id