BPBD Pacitan uji coba sistem peringatan dini tsunami usai gempa M 6,4, tingkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir.
Usai diguncang gempa bumi berkekuatan 6,4 magnitudo, BPBD Pacitan bergerak cepat melakukan simulasi peringatan dini tsunami. Langkah ini bertujuan memastikan masyarakat pesisir siap menghadapi risiko bencana dan menambah kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana.
Simulasi menjadi bagian dari Signal Alam upaya berkelanjutan untuk memperkuat sistem tanggap darurat di wilayah rawan gempa dan tsunami.
Gempa Magnitudo 6,4 Mengguncang Pacitan
Pacitan diguncang gempa berkekuatan 6,4 pada Jumat dini hari, 6 Februari 2026. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan potensi tsunami dan bencana susulan. BPBD Pacitan segera meningkatkan kewaspadaan dan memastikan kesiapsiagaan warga di wilayah pesisir.
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, menyatakan pihaknya langsung melakukan pengecekan terhadap Tsunami Early Warning System (TEWS) pasca-gempa. Hal ini untuk memastikan sistem peringatan dapat memberi informasi dini dengan cepat kepada masyarakat.
Gempa ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana. Koordinasi antara BPBD, BNPB, dan pihak legislatif terus diperkuat agar prosedur tanggap darurat berjalan lancar dan risiko dampak gempa maupun tsunami bisa diminimalkan.
Uji Coba Sistem Peringatan Dini Tsunami
Sirene TEWS diuji coba kembali pada Senin, 9 Februari 2026, siang, untuk memastikan seluruh perangkat bekerja dengan baik. Pengujian ini dilakukan di sejumlah titik strategis setelah gempa terjadi, berbeda dari jadwal rutin yang biasanya dilakukan tiap tanggal 26 setiap bulan.
Tes rutin yang dilakukan setiap tanggal 26 bulan berjalan memastikan sistem tetap siap sedia. Namun pasca-gempa, BPBD mempercepat jadwal uji coba untuk menegaskan bahwa semua sirene dan sensor dapat diandalkan saat kondisi darurat.
Proses uji coba disaksikan langsung oleh Nanang Samodra dari Komisi VIII DPR-RI, Pangarso Suryotomo sebagai Plt Deputi Pencegahan BNPB, serta Sekda selaku Kepala BPBD. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen pemerintah dan legislatif terhadap kesiapsiagaan bencana di Pacitan.
Baca Juga: BMKG Ingatkan Warga Sulsel: 10 Daerah Berisiko Cuaca Ekstrem
Peningkatan Kesiapsiagaan Masyarakat
BPBD Pacitan tidak hanya fokus pada TEWS, tetapi juga meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Sosialisasi mitigasi bencana rutin dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran warga mengenai risiko dan langkah penanganan saat bencana terjadi.
Selain itu, rencana simulasi berkala disusun melibatkan aparat desa, sekolah, hingga komunitas. Latihan ini bertujuan agar respon terhadap bencana dilakukan cepat, tepat, dan terkoordinasi dengan baik.
Strategi ini selaras dengan arahan Komisi VIII DPR-RI dan BNPB. Kegiatan mitigasi bencana harus berkelanjutan agar masyarakat memiliki pemahaman, keterampilan, dan kesiapan menghadapi situasi darurat.
Peran Legislatif Dan BNPB Dalam Mitigasi Bencana
Nanang Samodra menekankan pentingnya latihan kebencanaan yang dilakukan secara rutin. Ia mencontohkan Jepang, di mana simulasi mitigasi dilakukan berkali-kali sehingga dampak gempa bisa ditekan dan korban bisa diminimalkan.
Pangarso Suryotomo menambahkan bahwa penguatan kesadaran masyarakat menjadi faktor utama dalam pengurangan risiko bencana. Sosialisasi masif dan pelibatan warga dalam geladi menjadi strategi penting yang harus diterapkan pemerintah daerah.
BNPB bertugas mendampingi pemerintah daerah baik dari sisi teknis, penyediaan logistik, maupun peningkatan kapasitas. Sinergi ini diharapkan memperkuat sistem tanggap darurat, sehingga dampak gempa maupun tsunami dapat ditekan seminimal mungkin.
Bantuan Dan Penanganan Darurat Pasca-Gempa
Pemerintah menyalurkan bantuan senilai Rp 351,8 juta untuk penanganan darurat setelah gempa pada 6 Februari 2026. Dukungan ini mencakup logistik dan perlengkapan pengungsi agar kebutuhan dasar masyarakat terdampak bisa terpenuhi dengan cepat.
Jenis bantuan meliputi 100 selimut, 100 lembar terpal, satu unit tenda pengungsi, 50 paket kasur lipat, dan 30 tenda keluarga. Distribusi dilakukan secara cepat dan terkoordinasi agar warga yang terdampak bisa segera terbantu.
BPBD menekankan bahwa bantuan logistik hanyalah bagian dari strategi penanganan bencana. Fokus utama tetap pada mitigasi, sosialisasi, dan latihan rutin masyarakat agar kesiapan fisik dan mental warga meningkat, sehingga risiko korban bisa diminimalkan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari beritajatim.com