BMKG menjelaskan peran strategis Stasiun Citeko dalam pemantauan iklim nasional serta penguatan data kualitas udara Indonesia.

Stasiun Meteorologi Citeko di Bogor bukan sekadar pos pengamatan biasa. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, baru-baru ini menekankan peran vitalnya dalam memahami perubahan iklim dan mendukung pembangunan nasional. Kunjungan pada 2 Januari 2026 ini mengungkap betapa krusialnya lokasi di pegunungan untuk pengamatan iklim dan kualitas udara yang akurat.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di SIgnal Alam.
Strategisnya Pengamatan di Ketinggian
Faisal menyoroti bahwa Stasiun Meteorologi Citeko memiliki posisi yang sangat strategis. Berada di wilayah ketinggian, Citeko relatif minim dari gangguan aktivitas perkotaan, menjadikannya lokasi ideal. Jumlah lokasi pengamatan semacam ini sangat terbatas di Indonesia, menegaskan keunikan dan pentingnya Citeko.
Pengamatan kualitas udara dan Gas Rumah Kaca (GRK) di lokasi pegunungan seperti Citeko sangat langka. Selain Citeko, hanya ada Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) Kototabang yang sebanding. Mayoritas stasiun pengamatan BMKG justru berada di dataran rendah atau bandara, membuat Citeko menjadi aset yang tak ternilai.
Kualitas udara, termasuk pencemaran dan GRK, memiliki korelasi erat dengan sistem iklim yang lebih luas. Data yang terkumpul dari pengamatan di Citeko menjadi fondasi esensial untuk analisis iklim jangka panjang. Ini memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika atmosfer global.
Menjelajahi Peran Luas BMKG
Faisal menjelaskan perbedaan fundamental antara cuaca dan iklim dengan analogi yang mudah dimengerti. Cuaca bersifat dinamis dan selalu berubah, sementara iklim merupakan sifat dasar atmosfer yang terbentuk dari proses panjang. Memahami iklim adalah kunci untuk memprediksi cuaca secara akurat.
Tugas BMKG tidak hanya sebatas menyampaikan informasi cuaca dan peringatan dini. Peran yang lebih besar adalah mendukung pembangunan lintas sektor. Mulai dari swasembada pangan, air, energi, pariwisahan, hingga infrastruktur nasional, BMKG menyediakan data krusial untuk perencanaan yang berkelanjutan.
Banyak yang luput menyadari bahwa data BMKG, seperti kelembapan tanah, sangat penting. Bahkan, Kementerian Pertanian pernah terkejut mengetahui bahwa BMKG memantau hal tersebut. Ini menunjukkan betapa data meteorologi dan klimatologi mendukung berbagai aspek kehidupan dan pembangunan.
Baca Juga: BMKG Waspada! Gelombang Tinggi Hingga 4 Meter Diprediksi 3–6 Januari 2026
Mengupas Fokus Utama di Citeko

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa pengamatan atmosfer di ketinggian seperti Citeko adalah prioritas. Lokasi ini merepresentasikan kondisi atmosfer latar yang minim polusi lokal, sehingga data yang dihasilkan akurat untuk memantau perubahan iklim global.
Pengamatan GRK di Citeko dimulai sejak kerja sama dengan National Institute for Environmental Studies (NIES) Jepang pada 2016. Meskipun kerja sama berakhir pada 2022, peralatan hibah masih beroperasi. Alat-alat ini secara terus-menerus memantau CO₂, CH₄, PM2.5, dan parameter kualitas udara lainnya.
Metana (CH₄) menjadi perhatian khusus karena potensi pemanasan globalnya jauh lebih besar dibandingkan CO₂, meskipun masa hidupnya di atmosfer lebih singkat. Data dari Citeko menunjukkan tren kenaikan konsentrasi GRK yang sejalan dengan tren global, serta pola polusi PM2.5 unik di pegunungan.
Stasiun Citeko, Penjaga Lingkungan Dan Penyelamat Nyawa
Kepala Stasiun Meteorologi Citeko, Fathuri Syabani, melaporkan bahwa stasiun ini berdiri sejak 1983. Berada di ketinggian 910 meter di atas permukaan laut dan hulu Sungai Ciliwung, Citeko adalah salah satu stasiun sinoptik yang masih beroperasi di wilayah Jabodetabek, khususnya Bogor-Puncak.
Data curah hujan dari Citeko sering dimanfaatkan sebagai peringatan dini untuk memantau kenaikan muka air di Bendung Katulampa. Hujan lebat di Citeko akan berdampak pada kenaikan muka air di Katulampa sekitar dua jam kemudian, memberikan waktu bagi pihak terkait untuk mengambil tindakan preventif.
Peran Citeko meluas hingga mendukung keselamatan masyarakat, seperti peringatan dini banjir dan keselamatan pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Selain itu, stasiun ini juga aktif dalam edukasi kebencanaan dan lingkungan bagi pelajar. Kepala Balai Besar MKG Wilayah II, Hartanto, menegaskan vitalnya Citeko untuk sistem peringatan dini banjir Jakarta.
Jangan lewatkan update berita seputaran Signal Alam serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari bmkg.go.id
- Gambar Kedua dari bmkg.go.id