Banjir setinggi 70 cm masih menggenangi Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, membuat warga harus bertahan di tengah risiko.
Sejumlah rumah kosong, akses jalan terblokade, dan anak-anak serta lansia terjebak di pemukiman. Warga mengeluhkan gangguan kesehatan dan kesulitan aktivitas sehari-hari. BPBD Demak terus memantau lokasi terdampak, namun akses terbatas membuat bantuan belum merata.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di SIgnal Alam.
Banjir Masih Rendam Desa Wonorejo, Karanganyar
Banjir masih menggenangi Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dalam sepekan terakhir hingga Jumat (16/1/2026). Pantauan di Dukuh Kedung Banteng, air banjir merendam pemukiman hingga kedalaman 60 sentimeter (cm), membuat aktivitas warga terganggu.
Sejumlah rumah terlihat kosong tanpa penghuni, sementara beberapa akses jalan diblokade menggunakan bambu dan kursi sebagai tanda jalur tidak aman dilintasi. Kondisi ini membuat mobilitas warga sangat terbatas dan menimbulkan risiko bagi yang tetap bertahan di rumah.
Banjir yang berkepanjangan membuat sebagian warga mengeluhkan gangguan kesehatan dan terpaksa meninggalkan rumah untuk mengungsi ke rumah saudara. Meski demikian, mayoritas warga tetap memilih bertahan di pemukiman mereka dengan segala risiko yang ada.
Warga Mengeluhkan Dampak Banjir
Sugiharto, warga Dukuh Kedung Banteng, menceritakan pengalamannya saat mencoba menyesuaikan aktivitas di tengah banjir. “Saya tanya ke Mbok Des Semarang (saudara) dulu, kalau Sayung aman saya ke Semarang, lah keadaan seperti ini,” ujarnya kepada Kompas.com, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa dalam tiga hari terakhir harus pergi keluar kota untuk urusan kerja. Namun saat kembali, debit banjir justru meningkat hingga masuk ke rumah setinggi 40 cm, membuat rencana menjemput istrinya terganggu.
“Saya pulang saya kira sudah kering, malah tambah besar, masyaAllah,” ungkap Sugiharto. Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir di Desa Wonorejo belum menunjukkan tanda surut dan masih menjadi ancaman bagi warga.
Baca Juga: Waspada! Gelombang Tinggi Ancam Perairan Jatim hingga 20 Januari 2026
Genangan Air dan Kesulitan Warga
Di RT 8 Dukuh Kedung, banyak rumah tertutup rapat tanpa penghuni, sementara genangan air di jalan mencapai 70 cm. Ira (38), salah satu warga, mengonfirmasi bahwa sebagian tetangganya kesulitan meninggalkan rumah sejak tiga hari terakhir.
“Ada beberapa yang sudah mengungsi ke tempat saudara, ada yang memang masih bertahan. Untuk lansianya memang masih banyak yang bertahan,” katanya. Warga yang tetap tinggal menghadapi risiko kesehatan dan keterbatasan akses ke kebutuhan pokok.
Ira menambahkan, banjir ini merupakan masalah klasik akibat sungai avour, sistem drainase buatan di depan kampung, yang meluap saat hujan intensitas tinggi. “Ini banjir akibat irigasi kita sungai depan itu tidak bisa jalan,” ujarnya, menekankan perlunya perbaikan sistem drainase untuk mencegah banjir berulang.
Banjir Jadi Ancaman Keseharian Warga
Banjir yang terus berlangsung membuat warga tetap waspada, terutama bagi anak-anak dan lansia yang tinggal di pemukiman terendam. Banyak warga mengandalkan bantuan dari tetangga dan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
BPBD Kabupaten Demak telah memantau lokasi terdampak dan melakukan evakuasi terbatas, namun akses yang terbatas membuat bantuan belum merata. Warga berharap pemerintah daerah segera memperbaiki sistem irigasi dan saluran drainase agar banjir tidak terus mengganggu kehidupan sehari-hari.
Fenomena banjir di Desa Wonorejo menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan perbaikan infrastruktur. Dengan perhatian serius dari pihak terkait, diharapkan warga dapat kembali beraktivitas normal dan risiko banjir bisa diminimalkan di masa depan.
Jangan lewatkan update berita seputaran Signal Alam serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari regional.kompas.com